Showing posts with label Kerajaan Eropa. Show all posts
Showing posts with label Kerajaan Eropa. Show all posts

Thursday, 29 December 2016

Apa yang membedakan Imperialisme dengan kolonialisme ?

Kolonialisme dan imperalisme keduanya memiliki sifat yang sama yaitu dominasi ekonomi dan politik diatas pihak lain, sehingga tak heran mereka berdua sering disebut secara bersama - sama. Namun tahu kah anda ? Ternyata kedua istilah tersebut memiliki arti dan maksud yang berbeda. 

Namun sebelum kita mengulas arti dan perbedaan dari kedua istilah tersebut, alangkah lebih baiknya kita menelusuri asal - usul dari istilah tersebut. Istilah Imperialisme ternyata lebih dulu ada jauh sebelum istilah kolonialisme tercetus, yaitu sejak jaman Romawi, berasal dari bahasa latin yaitu "imperium" yang berarti "memerintah". Sedangkan istilah Kolonialisme tercetus sekitar abad ke 15 dimana bangsa Eropa mulai mengekspansi wilayah nya secara besar - besaran ke "dunia baru", yaitu berasal dari bahasa latin "Colonus" yang berarti petani. Nah berdasarkan beberapa sumber yang admin baca, terdapat poin - poin penting yang membedakan Imperialisme dan kolonialisme. 

Pertama kalau kolonialisme berarti menguasai wilayah negara lain, kalau Imperialisme tidak harus menguasai negara lain (bisa membentuk negara boneka, atau faktor yang disengaja apapun yang membuat negara tersebut menjadi tunduk sama negara Imperialis).

Kedua Kolonialisme biasanya melakukan program transmigrasi, yaitu memindahkan rakyat di negara induk untuk dipindahkan ke negara koloni (biasanya untuk menyingkirkan warga pribumi), sedangkan Imperialisme tidak harus. 

Dan yang terakhir, Kolonialisme sering dipakai merujuk ke wilayah koloni Eropa seperti di India, Brasil, Selandia Baru, Australia, Aljazair, dll. Yang dimana bangsa Eropa melakukan imigrasi skala besar ke wilayah tersebut. Sedangkan untuk contoh Imperialisme yaitu "perebutan Afrika" pada akhir abad ke 19, dominasi Amerika di Filipina, dan Puerto Riko Secara garis besar suatu negara bisa menerapkan Kolonialisme harus sudah menerapkan Imperialisme terlebih dahulu.

Memiliki pendapat lain ? anda bisa menyampaikannya di kolom komentar. 

Tuesday, 27 December 2016

Penjualan Alaska Rusia ke Amerika Serikat

Pada abad ke-18 penjelajah Rusia menginjakan kaki ke Alaska, mereka merubah Alaska yang tadinya hanya wilayah salju tak berharga, menjadi salah satu pusat perdagangan Internasional. Orang - orang berjualan kain Cina, teh, es, taring anjing laut, dan kulit bulu berang - berang laut yang memang pada saat itu harga nya tidak kalah jauh dengan gading Gajah. Tidak hanya disitu Rusia juga membangun galangan kapal, pabrik, dan tambang batubara, konon Rusia juga percaya Alaska menyimpan kekayaan emas yang memang belum dijamah oleh kerajaan. Tentu menjual Alaska adalah tindakan konyol mengingat kontribusi Alaska dalam mengisi kas negara namun keadaan berkata lain.

Aleksandr Baranov
Alaska pada saat itu dipimpin oleh seorang pedagang yang penuh talenta ia adalah Aleksandr Baranov. Dimasa kemimpinan beliau Alaska berkembang sangat pesat, ia membangun pabrik, galangan kapal, sekolah, dan mengajarkan warga pribumi bercocok tanam. Keuntungan penjualan komoditas dagang meningkat 1000%. Baranov pensiun dan digantikan oleh kapten AL Rusia Hagemeister. Dibawah pimpinan dia Alaska malah merugi, ia menurunkan harga komoditas kulit berang - berang laut dan taring anjing laut yang dibeli dari pribumi sebanyak 2 kali lipat, dan dijual dengan harga biasa ke negara lain. Akibatnya perburuan berang - berang dan anjing laut semakin tak terkendali dan membuat perburuan semakin sulit, kaum pribumi pun menjadi hidup melarat dan memberontak. Hagemeister juga meningkatkan upah tentara dan pejabat perusahaan dagang tanpa diseimbangi oleh menaiknya keuntungan. Akhirnya Alaska rugi besar dan kas pajak ke Rusia pun berkurang.

Tahun 1850an Rusia sedang mengalami krisis finansial, hutang - hutang yang mau jatuh tempo, dan diperburuk oleh perang Krimea antara kerajaan Rusia melawan Inggris, Turki Utsmani, dan Perancis. Keamanan di Alaska pun juga terancam karena Rusia kehilangan superioritas di laut timur jauh (pasifik bagian utara), Alaska pun terancam jatuh ke pihak Inggris. Dari pada takut tak dapat apa - apa di Alaska dengan terpaksa Rusia menjual Alaska ke Amerika. 1867, Akhirnya Amerika sepakat membeli Alaska seharga 7,2 Juta dolar AS.
Cek senilai 7,2 Juta Dollar AS yang diberikan ke kekaisaran Rusia

Ada hal unik dalam peristiwa ini, dimana baik rakyat Amerika Serikat maupun Rusia saling menyalahkan pemerintah karena transaksi ini dianggap tidak menguntungkan, bagi rakyat Rusia, Alaska memiliki potensi besar yang belum dijaman oleh kekaisaran Rusia. Sedangkan bagi rakyat Amerika Serikat, pemerintah Amerika Serikat terlalu bodoh membeli tanah membeku yang kian merugi seharga 7,2 Juta Dollar. Namun waktu menjawab nya ketika pemerintah AS menemukan cadangan minyak yang cukup banyak di Alaska.

Monday, 26 December 2016

Pertempuran Texel : Ketika satu resimen berkuda mampu mengalahkan satu armada kapal perang

Pernah membayangkan apa yang terjadi jika pasukan berkuda dikerahkan untuk menyerang kapal perang ? mungkin anda hanya menganggap bahwa hal tersebut hanya terjadi di game strategi klasik. Ternyata hal tersebut tidak hanya terjadi di game. Setidaknya ada satu pertempuran di dunia nyata yang melibatkan pasukan kuda melawan kapal perang, karena keadaan yang sangat menguntungkan pasukan berkuda, membuat pertempuran ini berhasil dimenangkan oleh mereka.

Pasca revolusi Perancis, karena khawatir akan menyebarnya paham revolusi Perancis ke seluruh Eropa. Inggris, bersama Belanda, Spanyol, Portugal, Austria, dan negara Eropa lainnya membentuk koalisi untuk menggagalkan berdirinya negara Republik Perancis. Karena Belanda memiliki militer yang lemah dibanding Perancis, dan letaknya yang berdekatan. Pada 19 Januari 1975 Amsterdam berhasil ditaklukan. Pasukan Republik Perancis yang berada di Amsterdam mendapat kabar bahwa 80 Kilometer ke utara dari Amsterdam tepatnya diantara Den Helder dan pulau Texel terdapat satu armada kapal perang Belanda sedang terjebak di lautan es.

Mendengar kesempatan emas itu, jenderal Republik Perancis Jean-Charles Pichegru memerintahkan jenderal De Winter untuk memimpin resimen ke-8 hussar, dan satu batalion 15th Line Infantry, untuk menangkap armada Belanda tersebut. Sesampainya di Den Helder pada 23 Januari 1795, pasukan berkuda Perancis melapisi kaki kuda mereka dengan kain, sehingga tidak memberikan suara berisik saat berjalan di es dan kru kapal Belanda pun tidak akan terbangun. Untungnya saat menyeberangi lautan yang membeku, es tidak memberikan tanda - tanda retakan, pertempuran berjalan dengan mulus karena para kru kapal perang Belanda tidak memberikan perlawanan sedikitpun, karena saat mereka sadar pasukan infantri Perancis sudah berhasil menduduki kapal Perang Belanda. Terdapat 14 kapal perang dengan total 850 meriam, dan beberapa kapal dagang berhasil disita militer Perancis. Namun masih banyak sejarawan yang masih meragukan kebenaran dari kisah pertempuran ini, karena cerita ini hanya bersumber dari pihak Perancis.