Showing posts with label Perancis. Show all posts
Showing posts with label Perancis. Show all posts

Thursday, 29 December 2016

Ketika Nazi Jerman tak sengaja membombardir kotanya sendiri

Freiburg pada masa pemerintahan Nazi di Jerman
Pada masa Perang Dunia 2 sistem navigasi tidak secanggih sekarang, radar pun belum terlalu marak digunakan, yang diandalkan adalah insting dan keberuntungan kru pesawat. Dan tentu hal tersebut sangat riskan. Seperti hal nya terjadi pada 3 unit pesawat He 111 yang merupakan bagian dari 8th Season of Fighter Squadron 51, mereka secara tak sengaja mengebom kota Freiburg yang merupakan bagian Jerman.

Kejadian berawal pada tanggal 10 Mei 1940. Ketiga pesawat tersebut diperintahkan untuk mengebom kota Perancis di Dijon. Biasa nya acuan utama angkatan udara Jerman mengetahui bahwa mereka sudah memasuki wilayah Perancis adalah sungai Rhine (yang bertetangga dengan kota Freiburg). Namun karena cuaca yang cukup berawan membuat kru pesawat mengira mereka sudah berada di atas target. 

Peta Freiburg dan sungai Rhine

Sekitar pukul 4 sore mereka semua menjatuhkan 69 bom. Bom tersebut mengenai sekitar stasiun kereta dan menewaskan 57 orang. Sebelum nya pasukan pertahanan udara Jerman sudah menyadari ada pesawat Jerman, dan menganggap mereka hanya lewat dan ingin menuju Perancis. Namun siapa sangka mereka salah besar. Karena ini merupakan peristiwa memilukan sekaligus memalukan. 

He-111


Para petinggi Jerman berusaha menutupi kejadian ini. Dan memberi keterangan palsu ke media dan mengatakan bahwa ini merupakan ulah Perancis. Keterangan ini ditelan mentah - mentah oleh media Jerman salah satunya Freiburger Zeitung yang menulis "licik, serangan udara yang dilakukan oleh seorang pengecut yang telah melanggar hukum internasional, dan kemanusiaan". 7 bulan kemudian Hitler mengutuk Churchill dan antek - antek nya karena telah melakukan tindakan terorisme mengebom rakyat sipil di Freiburg.

Ironisnya fakta bahwa Jerman tak sengaja mengebom kotanya sendiri baru terungkap pada Agustus 1980. Ketika mantan Jenderal luftwaffe Josef Kammhuber angkat bicara bahwa pengeboman Freiburg adalah sepenuhnya kesalahan Jerman.

Gun Synchronization Gear

yang diberi lingkaran merah merupakan contoh senapan mesin pesawat yang di taruh dekat baling - baling dan menggunakan synchronization Gear.
Mungkin bagi kalian yang pecinta perang dunia 2 atau yang pernah bermain game perang - perangan pesawat bertema PD2 seperti Warthunder, World Of Warplanes, atau yang lebih lawas kaya Battlestations Pasific, ga asing lagi sama pesawat Jepang, Uni Soviet, Jerman, dan beberapa pesawat Amerika yang menaruh persenjataan pesawat nya di deket baling - baling. Lantas pernah ga sih kalian bertanya - tanya "kok bisa ya sang pilot mampu menembak senapan pesawat nya yang terletak didekat baling - baling tanpa merusak baling - baling pesawat tersebut?"

Pada awal Perang Dunia 1 baik Jerman ataupun Perancis hanya menggunakan pesawat sebagai alat pengintai. Namun para Perwira kedua belah pihak saling berfikir kenapa mereka tidak membuat pesawat yang mampu untuk menghancurkan target. Awal nya kedua pihak menaruh senapan mesin dibadan pesawat yang dioperasikan oleh seorang penembak sementara pilot hanya sibuk menerbangkan pesawat. Namun salah seorang perwira Jerman berpendapat alangkah baiknya jika kita mampu mendesain persenjataan pesawat yang terkoordinasi dengan baling - baling pesawat, karena dianggap lebih efektif. Singkat cerita Gun Synchronization/interrupter tercipta dan mulai diterapkan di pesawat. Alat ini mampu membuat frekuensi hentakan peluru dan putaran baling saling terkoordinasi. Konsep kerjanya cukup sederhana ketika pilot menekan pelatuk senapan mesin pesawat, Interrupter mampu membuat senapan mesin pesawat untuk tidak mengeluarkan peluru ketika baling - baling melewati lubang tembakan, dan kembali menembak ketika baling - baling sudah lewat. Konsep ini terus dipakai pada pesawat perang Dunia 2. Adapun kekurangan yang dimiliki adalah frekuensi hentakan peluru menjadi berkurang. 



Monday, 26 December 2016

Pertempuran Texel : Ketika satu resimen berkuda mampu mengalahkan satu armada kapal perang

Pernah membayangkan apa yang terjadi jika pasukan berkuda dikerahkan untuk menyerang kapal perang ? mungkin anda hanya menganggap bahwa hal tersebut hanya terjadi di game strategi klasik. Ternyata hal tersebut tidak hanya terjadi di game. Setidaknya ada satu pertempuran di dunia nyata yang melibatkan pasukan kuda melawan kapal perang, karena keadaan yang sangat menguntungkan pasukan berkuda, membuat pertempuran ini berhasil dimenangkan oleh mereka.

Pasca revolusi Perancis, karena khawatir akan menyebarnya paham revolusi Perancis ke seluruh Eropa. Inggris, bersama Belanda, Spanyol, Portugal, Austria, dan negara Eropa lainnya membentuk koalisi untuk menggagalkan berdirinya negara Republik Perancis. Karena Belanda memiliki militer yang lemah dibanding Perancis, dan letaknya yang berdekatan. Pada 19 Januari 1975 Amsterdam berhasil ditaklukan. Pasukan Republik Perancis yang berada di Amsterdam mendapat kabar bahwa 80 Kilometer ke utara dari Amsterdam tepatnya diantara Den Helder dan pulau Texel terdapat satu armada kapal perang Belanda sedang terjebak di lautan es.

Mendengar kesempatan emas itu, jenderal Republik Perancis Jean-Charles Pichegru memerintahkan jenderal De Winter untuk memimpin resimen ke-8 hussar, dan satu batalion 15th Line Infantry, untuk menangkap armada Belanda tersebut. Sesampainya di Den Helder pada 23 Januari 1795, pasukan berkuda Perancis melapisi kaki kuda mereka dengan kain, sehingga tidak memberikan suara berisik saat berjalan di es dan kru kapal Belanda pun tidak akan terbangun. Untungnya saat menyeberangi lautan yang membeku, es tidak memberikan tanda - tanda retakan, pertempuran berjalan dengan mulus karena para kru kapal perang Belanda tidak memberikan perlawanan sedikitpun, karena saat mereka sadar pasukan infantri Perancis sudah berhasil menduduki kapal Perang Belanda. Terdapat 14 kapal perang dengan total 850 meriam, dan beberapa kapal dagang berhasil disita militer Perancis. Namun masih banyak sejarawan yang masih meragukan kebenaran dari kisah pertempuran ini, karena cerita ini hanya bersumber dari pihak Perancis.